Minggu, 25 Desember 2011

Persepsi


persepsi akan menentukan perilaku,
perilaku yang dilakukan terus-menerus akan menjadi kebiasaan,
kebiasaan akan menentukan nasib kita,
 maka, mulai saat ini mari kita ubah persepsi kita yang salah,
persepsimu tentangku,
persepsiku tentangmu,,,
 mari kita saling memaafkan, dan meninggalkan beban masa lalu beserta kenangan negatif yang mengiringinya...


Sabtu, 17 Desember 2011

Aeng moo sae –Parrot-- [OST Princess Hours]

I miss you again, like yesterday.
Won’t this feeling of missing you, lessen any?
I keep thinking about you.

The more I try to sort through it all, the more the tears come.
Even when I try to steal it, the memories spread into
different memories through the tears that I shed.
It makes me cry so painfully.

All I can do is regret, because all I ever did was receive.
But I’m afraid you’ll forget me because I’ve never gave you anything.

I love you, I, I love you
These words have become a habit
and these words are among the many I’ve learned from you.
I sit around alone mumbling to myself like a fool.
I’m sorry truly, truly, I’m sorry.
I’m even sorry that these words are so late
But I’m waiting here for you shamelessly
Will you by chance come back tomorrow?

Even if the birdcage that represented you was narrow
I still liked it, I was still happy.
I’m returning to the day, to my dreams
when I believed in a forever without seperation

If I could go back I’d gather my heart, I’d take everything
from it and give it you.

I love you, I, I love you
These words have become a habit
and these words are among the many I’ve learned from you.
I sit around alone mumbling to myself like a fool.
I’m sorry truly, truly, I’m sorry.
I’m even sorry that these words are so late
But I’m waiting here for you shamelessly
Will you by chance come back tomorrow?

My heart..
In the end even if you can’t come
and you’ve changed and I’m not the one for you any longer
I’ll call and call out to you again
Like a parrot calling only your name..
Wishing for only your love like this

Kamis, 08 Desember 2011

Angin Desember



Di tengah desas desus angin desember aku kembali membaca sebuah pesan untukku yang kau selipkan diantara update status facebookmu.
Sesuatu yang sama kita tahu, yang sama kita rasa.
Yang kau tahu tentang ku tanpa perlu ku ucapkan, sesuatu yang ku tahu tentangmu tanpa pernah kau bisikkan.
Yang hanya perlu kita sama pahami satu sama lain, yang hanya menuntut keyakinan hati diri masing-masing.
Aku masih ingin terus mempercayaimu. 

Senin, 14 November 2011

Suddenly (english) ost.City Hunter


I couldn’t come up with any words.
I really did not know I’d see you again.
Somewhere buried deep inside my heart.
I have longed and ached for you.

When I turn around I see the smiling face.
The face that is always there, behind me.
This dizzy feeling keeps me up at night.
Traces of you keep me crying again.

Tell me now, how was I wrong?
Tell me now, was I lacking?

I really desired you like crazy.
I always prayed that I could see you again.
I feel as though I will die like this.
Can’t you be the one coming to me now.
Please.

I told myself I’d be fine alone.
That I could do well without you.
I tell myself this as I try to force myself to sleep.
But all I can think of are the way you speak and look.

Tell me now, how was I wrong?
Tell me now, was I lacking?

I really desired you like crazy.
I always prayed that I could see you again.
I feel as though I will die like this.
Can’t you be the one coming to me now?

I really desired you like crazy.
I always prayed that I could see you again.
I feel as though I will die like this.
Can’t you be the one coming to me now?
Please.
Please.

Sabtu, 12 November 2011

Melodies of life





Alone for a while I've been searching through the dark,
 For traces of the love you left inside my lonely heart,
 To weave by picking up the pieces that remain,
 Melodies of life - love's lost refrain.

 Our paths they did cross, though I cannot say just why.
 We met, we laughed, we held on fast, and then we said goodbye.
 And who'll hear the echoes of stories never told ?
 Let them ring out loud till they unfold.

In my dearest memories, I see you reaching out to me.
Though you're gone, I still believe that you can call out my name.
A voice from the past, joining yours and mine.
Adding up the layers of harmony.
And so it goes, on and on.
Melodies of life,
To the sky beyond the flying birds - forever and beyond.

 So far and away, see the birds as it flies by.
 Gliding through the shadows of the clouds up in the sky.
 I've laid my memories and dreams upon those wings.
 Leave them now and see what tomorrow brings.

 In your dearest memories, do you remember loving me ?
 Was it fate that brought us close and now leave me behind ?
 A voice from the past, joining yours and mine.
 Adding up the layers of harmony.
 And so it goes, on and on.
 Melodies of life,
 To the sky beyond the flying bird - forever and on.

 If I should leave this lonely world behind,
 Your voice will still remember our melody.
 Now I know we'll carry on.
 Melodies of life,
 Come circle round and grow deep in our hearts, as long as we remember.

Sabtu, 29 Oktober 2011

Sekulit Rindu Untuk Mas-ku


Bagaimana tidurmu semalam mas? Kau nyenyak?,
Ah, kau tahu aku tak bisa merasakan kenyenyakan dalam tidurku selepas aku kau temui lewat mimpi semalam.  Selepas mimpi itu aku kembali dapat mengingat bagaimana wajah teduhmu menenangkanku. Aku teringat akan senyum tanggungmu yang mampu menyemangatiku. Rasanya baru kemarin kita duduk di bawah pohon dekat danau itu, bercerita panjang lebar tentang mimpi-mimpimu, tentang hidupku. Ingatkah kau berapa lama kemarin itu? Mungkin tidak ku kira. Tidak begitu jelas juga dalam ingatanku, tapi ku kikira sudah 799 hari telah berlalu sejak terakhir kali kita bicara dengan nyaman. Selepas hari itupun kita masih juga bicara, tapi obrolan kita makin melantur aku dengan diriku sendiri dan kau dengan dirimu sendiri. aku mungkin menyesal, tapi sedikit. Lalu bagaimana denganmu?
Tidak perlu kau jawab. Aku tak benar-benar ingin tahu. Aku hanya ingin kembali bercerita padamu. Melepas sedikit rindu yang mulai membukit di dinding hati ini. Aku ingin tahu bagaimana keadaanmu? Sudahkah kau sarapan pagi ini?. Ya,,itu pertanyaan konyol. Aku jadi teringat saat dulu aku menanyakanmu pertanyaan yang serupa dengan penuh kehawatiran, kau hanya tertawa diseberang telepon sana. Kau terdengar riang menjawab pertanyaanku. Sungguh pipiku memerah saat itu, malu tak terkira. Itu pertama kalinya aku menghawatirkan seseorang. Aku menghawatirkan kau yang baru saja memulai hidup baru ditempat yang jauh dari tempatku berada. Kau yang sendiri Jauh dari keluargamu. Aku benar-benar ingin tahu alur hidupmu yang baru. Dan aku masih ingin merasa dekat walau terpisahkan jarak yang bermil-mil jauhnya, terpisahkan oleh lautan. Kau benar-benar jauh dari pandangan mataku. Saat itu, jika aku merindukanmu, kau bilang aku hanya perlu melihat bintang yang paling bersinar terang itu. Entah itu bintang apa namanya, kau tak memberitahuku, akupun tak tahu dan tak ingin bertanya. Gombal. Hm,,mungkin benar, atau memang benar. Tapi aku benar-benar mengikutinya. Ah, aku bodoh ya mas?

Mas, tahukah kau? Danau tempat kita dulu menghabiskan separuh waktu, kini kering.
Hm,,,iya. Tentu kau tak tahu. Kau terlalu sibuk dan telah sangat jauh. Musim panas tahun ini begitu panjang, hingga semua air di danau itu menguap tak tersisa. Sama seperti kenanganmu yang menguap begitu saja selama beberapa waktu. Memoriku tentangmu terasa menguap begitu saja tanpa ku sadari. Aku terlalu larut dalam rutinitas yang menuntutku bergerak cepat. Hingga tak sempat mengingat walau hanya sekedar namamu. Tugas-tugas yang menumpuk menyita seluruh pikiranku dan menghilangkan sekilas bayang wajahmu, sampai aku tak bisa mengingat bagaimana kau tersenyum. Aku bahkan tak mampu mengingat bagaimana lukisan matamu yang teduh. Tapi mimpi semalam membuatku kembali rindu kau, mas. Detail matamu, hidungmu, senyummu terlukis jelas pada mimpi semalam. Itu cukup untuku.
 
Mas, aku tak tahu dimana kau sekarang. Bagaimana keadaanmu. Ku dengar telah ada seseorang yang lain, itu tak apa. Aku turut senang. Aku juga tak tahu kemana harus kukirim surat pendekku ini, karena aku memang tak tahu keberadaanmu. Walaupun nanti aku tahu, aku tak punya nyali membuatmu membaca sekelumit rindu ini. Ku cukupkan surat ini terpos diblogku saja. Biar saja waktu yang akan mengabarimu, entah lewat surat ini ataukah dengan caranya yang lain. Ada satu hal yang ingin aku pinta darimu,  sesekali ingatlah aku dalam sadarmu.

Kamis, 15 September 2011

Kisah Jaket Hitam dan Abu-abu

Sesungging senyum hangat menghias wajah jaket hitam sejak ia melihat jaket abu-abu berjalan malu ke arahnya. Hitam, warna yang sesuai untuknya, yang misterius tapi hangat. Dramatis tapi elegan. Kuat tapi penuh perlindungan. Sangat pas untuk merepresentasikan sifatnya yang selalu menggoda jaket abu-abu untuk lebih mengenalnya lebih jauh.
Siang itu dia menunggu jaket abu-abu diseberang jalan, gerbang depan sekolahnya, yang sedang akan menyeberangi jalan yang cukup padat. Senyum dan penglihatannya tak ia lepas dari jaket abu-abu hingga akhirnya si abu-abu duduk dibelakang punggungnya dengan nyaman. Aroma hujan yang menguap mengiringi gelinding roda motornya dengan santai. “ Tak boleh ada yang melihat mereka bersama, ini rahasia” bisiknya pada angin yang menerpa wajah mereka berdua. Hanya angin, hujan, dan matahari yang masih malu-malu menyembunyikan wajahnya dibalik awan saja yang boleh tahu. Ini benar-benar rahasia. Setiap detik dan hembusan napas adalah waktu yang terindah bagi mereka. Percakapan sepenjang jalan adalah alunan melodi  merdu untuk mereka kenang. Angin dan kawan-kawannya tak boleh menguping, ini lebih dari sekedar rahasia kawan.
Mereka telah tiba ditempat tujuan abu-abu. Jaket hitam bersbisik, “kau masih saja seperti karang, keras dan tak goyah...”. “dan kau masih seperti ombak yang selalu pasang surut membentur karang,” balas sang abu-abu. Mereka tersenyum, lalu tertunduk malu. Masing-masing mengartikan bisikan pendek yang baru saja terlontar.
Itu adalah kisah 4 bulan berlalu sebelum 15 mei 2010, hari yang telah dinanti selama tiga tahun. Hari bersejarah yang akan mengubah status hidup hitam dan abu-abu. Hari itu, jaket hitam dan abu-abu tidak lagi berstatus sebagai siswa. Abu-abu pun telah menyabet status baru sebagai “mahasiswa”, jaket hitampun menunggu status itu datang padanya. Hari itu pula, adalah senyum terakhir jaket hitam untuk sang abu-abu. Mereka sama-sama tersenyum diantara kerumunan orang-orang yang berbusana kartini bagi para perempuannya danpara lelakinya mengenakan  kemeja panjang lengkap dengan dasinya bak para eksekutif muda. Salam perpisahan terucap dalam diam melaui lambaian tangannya.  Tidak ada air mata, masing-masing tersenyum untuk kisah biru yang mereka tinggalkan. Masing-masing bersiap mengejar mimpi. Kisah biru antara jaket hitam dan abu-abu akan selalu menghias langit biru selepas hujan, dan mengenang deburan ombak yang selalu membentur karang di pantai yang lautnya biru,. Kisah ini memang sebiru langit cerah dan sedalam laut biru samudra.
bukankah karang selalu menunggu ombak yang datang?”bisik jaket hitam pada abu-abu hari itu, hari kenangan rahasia yang hanya hitam dan abu-abu yang tahu.

Selasa, 29 Maret 2011

Aku VS Setan-setan dalam Diriku

Aku mulai merasa lelah, aku kembali merasa tidak nyaman, ini tidak cocok untukku. Ini terlalu sulit. Aku pun mulai berpikir untuk menyerah sekarang. Ya menyerah sekarang, saat ini, disini, dari sini. Aku tahu, aku kembali menginginkan hal yang dulu pernah ku inginkan. Aku tahu, aku selalu mengintip, melirik ke arahnya. Aku hampir selalu memikirkannya. Aku ingin berbalik arah, lalu berlari mengejarnya lagi.

Aku : “apa yang kau pikirkan, heh?. Bodoh...! kau tahu? Kau sudah berjalan terlalu jauh, 8bulaan lebih telah kau habiskan untuk ini. Berapa banyak hal yang sudah kamu dan orang-orang yang menyayangimu korbankan untuk hal ini?, itu sangat banyak. Lalu sekarang ingin menyerah?”
SdD : “ya, aku tahu itu. Bahkan aku sangat tahu dan mengerti. Lalu aku harus bagaimana? aku merasa tidak cocok berada disini.”
Aku : “yang harus kau lalukan cukup hanya bertahan dan selesaikan apa yang telah kamu mulai.”
SdD : “bertahan? Kau tahu, bertahan tidak akan membuatku maju. Aku hanya seperti berjalan ditempat ini. Apa kau ingin melihatku, hanya jalan ditempat sementara yang lain terus merangsek maju?. Jadi biarkan aku berbalik arah lalu mengejar apa yang memang aku inginkan.”
Aku : “yang kamu inginkan?. Ini, berada disini itu yang sebenarnya kamu inginkan.”
SdD : “bukan.”
Aku : “kau bilang “bukan”?. Dan kau mau bilang bahwa kau ingin kabur, menghindari masalah seperti yang ingin kau lakukan dulu?. Seperti itu kan keinginanmu?. Kau tahu, kau hanya seorang pengecut yang akan selalu menghindari masalah. Kau pikir, menghindar akan menyelesaikan masalahmu? ”
SdD : “tidak seperti itu. Tapi ini berbeda.”
Aku : “apa bedanya?. Kau hanya ingin menghindari sesuatu, karena kau tidak bisa melakukannya dengan baik kan?. Itu sama seperti yang dulu.”
SdD : “entahlah, aku hanya merasa tidak menginginkan hal ini sejak awal,”
Aku : “lalu mengapa kau ada disini, kalau kau tidak menginginkannya?.”
SdD : “aku tidak punya pilihan lain, tapi aku menginginkan hal lain”
Aku : “itulah yang membuatmu hanya berjalan ditempat. Kau menduakannya, padahal yang sejak dulu kau inginkan adalah disini. Apa kau sudah lupa, apa yang telah kau katakan pada orang yang paling kamu sayangi malam itu?. Apa kau sudah lupa, bagaimana kau bangun di sepertiga malam terakhir hanya untuk merengek-rengek pada tuhanmu agar kau bisa berada disini?. Apa kau juga sudah lupa bagaimana perasaanmu saat kau tahu bahwa kau tidak bermimpi untuk ada disini? Bukankah kristal-kristal beningmu berjatuhan saat kau tahu hal itu, karena kau merasa begitu bahagia?. Apa kau juga telah lupa bagaimana kau berlari, lalu kau peluk orang yang kamu sayangi lalu kau bisikkan tentang hal itu?. Kau ingat, itu adalah pertama kalinya kau peluk dia setelah kau beranjak remaja?. Apakah sekarang kau sudah benar-benar lupa bagimana luapan perasaanmu saat itu??? Bukankah kau sangat bersyukur?”
SdD : “...”
Aku : “apa beginikah caramu bersyukur? Setelah kau dapatkan apa yang kau inginkan, lalu dengan mudahnya akan kau tinggalkan, hanya karena kamu tidak bisa melakukan satu hal dengan baik. Kau tahu, hanya “SATU” hal, tapi kau masih bisa melakukan hal lainnya dengan baik disini. Apa sekarang kau sudah tak tahu lagi bagaimana caranya bersyukur?”
SdD : “aku tahu,,,tapi,,”
Aku : “kau pikir bersyukur, hanya dengan kau ucapkan “alhamdulillah” saja?, lalu setelah itu kau lupa, dan kau tinggalkan apa yang telah kau dapat. Itu bukan bersyukur namanya. Jika kau benar-benar bersyukur, harusnya kau buktikan rasa syukurmu. Lakukan yang terbaik pada apa yang telah kau dapatkan. Dan selesaikan apa yang telah kau mulai dengan hasil terbaikmu.”
SdD : “apa aku bisa? Aku tidak berbakat dalam hal ini?” 
Aku : “kau tidak buutuh bakat untuk melakukan ynag terbaik dalam hal ini, yang perlu kau lakukan hanyalah sedikit pengetahuan, pengetahuan bisa kau dapatkan jika kau mau berusaha. Dan satukan hati mu untuk benar-benar mencintainya. Bukankan beberapa saat yang lalu kau bilang kau bisa menikmati keadaan disini, bahkan kau bilang kau sudah bisa menyukainya?. Sekarang berikan yang terbaik untuk yang telah kau pilih, dan jangan lagi kau duakan hatimu untuk yang lain. Percayalah ini yang terbaik untukmu, karena ini kau sendiri yang memilihnya, dan tuhanmu pun memilihkan ini sebagai yang terbaik untukmu. Dan kau lihat bagaimana senyum orang-orang yang kau sanyangi melihatmu disini. Oh, ya satu lagi. Jangan kamu terlalu mengasihani dirimu mu sendiri, itu akan membuatmu manja.”
Diriku : “kau benar, aku memang menduakanya selama ini. Aku kurang mensyukurinya karena ku anggap ini hanya sebuah kebetulan. Aku juga merasa begitu dimanjakan oleh diriku sendiri, hingga aku merasa sedikit malas untuk menyelesaikan apa yangku rasa tidak bisa ku selesaikan, padahal mungkin aku bisa melakukannya dengan lebih baik jika aku lebih berusaha.”
Aku : “iya, dan ingatlah, bukankah kau ingin membuktikan padaku bahwa kau bisa berdiri dengan kedua kakimu, tanpa harus ada “dia” disampingmu. Bahwa kau masih bisa mengepakkan sayapmu dan terbang lebih tinggi tanpa harus ditemaninya, bahwa kau akan baik-baik saja. Dan bahwa kau bukan seorang yang hanya bisa bermimpi, tapi kau juga bisa mengejar mimpimu hingga dapat. Dan bahwa kau bukan orang yang hanya bisa berjanji, tapi kau juga bisa menepati janjimu pada dirimu sendiri.”
Diriku : “tentu. Akan aku buktikan.”
Aku : “baik, ku tunggu buktinya. Dan ingat, bahwa kau tidak akan bisa membohongiku, aku akan tahu jika kau membohongiku, karena aku adalah dirimu, dirimu adalah aku. Jangan lagi biarkan setan-setan dalam dirimu itu menguasai dan mengusik kita, biarkan aku yang menguasai diri kita sendiri.”