Sabtu, 29 Oktober 2011

Sekulit Rindu Untuk Mas-ku


Bagaimana tidurmu semalam mas? Kau nyenyak?,
Ah, kau tahu aku tak bisa merasakan kenyenyakan dalam tidurku selepas aku kau temui lewat mimpi semalam.  Selepas mimpi itu aku kembali dapat mengingat bagaimana wajah teduhmu menenangkanku. Aku teringat akan senyum tanggungmu yang mampu menyemangatiku. Rasanya baru kemarin kita duduk di bawah pohon dekat danau itu, bercerita panjang lebar tentang mimpi-mimpimu, tentang hidupku. Ingatkah kau berapa lama kemarin itu? Mungkin tidak ku kira. Tidak begitu jelas juga dalam ingatanku, tapi ku kikira sudah 799 hari telah berlalu sejak terakhir kali kita bicara dengan nyaman. Selepas hari itupun kita masih juga bicara, tapi obrolan kita makin melantur aku dengan diriku sendiri dan kau dengan dirimu sendiri. aku mungkin menyesal, tapi sedikit. Lalu bagaimana denganmu?
Tidak perlu kau jawab. Aku tak benar-benar ingin tahu. Aku hanya ingin kembali bercerita padamu. Melepas sedikit rindu yang mulai membukit di dinding hati ini. Aku ingin tahu bagaimana keadaanmu? Sudahkah kau sarapan pagi ini?. Ya,,itu pertanyaan konyol. Aku jadi teringat saat dulu aku menanyakanmu pertanyaan yang serupa dengan penuh kehawatiran, kau hanya tertawa diseberang telepon sana. Kau terdengar riang menjawab pertanyaanku. Sungguh pipiku memerah saat itu, malu tak terkira. Itu pertama kalinya aku menghawatirkan seseorang. Aku menghawatirkan kau yang baru saja memulai hidup baru ditempat yang jauh dari tempatku berada. Kau yang sendiri Jauh dari keluargamu. Aku benar-benar ingin tahu alur hidupmu yang baru. Dan aku masih ingin merasa dekat walau terpisahkan jarak yang bermil-mil jauhnya, terpisahkan oleh lautan. Kau benar-benar jauh dari pandangan mataku. Saat itu, jika aku merindukanmu, kau bilang aku hanya perlu melihat bintang yang paling bersinar terang itu. Entah itu bintang apa namanya, kau tak memberitahuku, akupun tak tahu dan tak ingin bertanya. Gombal. Hm,,mungkin benar, atau memang benar. Tapi aku benar-benar mengikutinya. Ah, aku bodoh ya mas?

Mas, tahukah kau? Danau tempat kita dulu menghabiskan separuh waktu, kini kering.
Hm,,,iya. Tentu kau tak tahu. Kau terlalu sibuk dan telah sangat jauh. Musim panas tahun ini begitu panjang, hingga semua air di danau itu menguap tak tersisa. Sama seperti kenanganmu yang menguap begitu saja selama beberapa waktu. Memoriku tentangmu terasa menguap begitu saja tanpa ku sadari. Aku terlalu larut dalam rutinitas yang menuntutku bergerak cepat. Hingga tak sempat mengingat walau hanya sekedar namamu. Tugas-tugas yang menumpuk menyita seluruh pikiranku dan menghilangkan sekilas bayang wajahmu, sampai aku tak bisa mengingat bagaimana kau tersenyum. Aku bahkan tak mampu mengingat bagaimana lukisan matamu yang teduh. Tapi mimpi semalam membuatku kembali rindu kau, mas. Detail matamu, hidungmu, senyummu terlukis jelas pada mimpi semalam. Itu cukup untuku.
 
Mas, aku tak tahu dimana kau sekarang. Bagaimana keadaanmu. Ku dengar telah ada seseorang yang lain, itu tak apa. Aku turut senang. Aku juga tak tahu kemana harus kukirim surat pendekku ini, karena aku memang tak tahu keberadaanmu. Walaupun nanti aku tahu, aku tak punya nyali membuatmu membaca sekelumit rindu ini. Ku cukupkan surat ini terpos diblogku saja. Biar saja waktu yang akan mengabarimu, entah lewat surat ini ataukah dengan caranya yang lain. Ada satu hal yang ingin aku pinta darimu,  sesekali ingatlah aku dalam sadarmu.